"Hahahaha, iya dong. Aku lagi baik nih. Aku traktir makan yuk. Kamu maunya di mana?"
"Terserah kamu deh."
"Aku mau hoka-hoka bento,"
"Aku males nge-mall"
"Bakso?"
"Kamu ngga bisa ya hidup tanpa bakso?"
"Apa dong?"
"Steak?"
"Deal!"
Kami pun mampir ke warung steak yang searah jalan pulang. Setelah memesan makanan dan minuman seadanya, kami ngobrol seperti biasanya. Mulai dari bahasan ringan, sampai yang berat. Tidak ada yang spesial sebenarnya, semuanya berjalan seperti biasa. Kami pun makan juga seperti biasa, bukan seperti orang yang kelaparan meski dari pagi kami belum mengisi perut. Saling mencicip makanan satu sama lain. Aku bahagia, dia bahagia, kami bahagia.
Selesai semua makanan habis dan selesai urusan dengan mas kasir tentunya , dia mengantarku pulang.
Setelah sampai di rumahku, dia pun ikut masuk.
"Hon, can i be honest?"
"Yes, please?"
"I’m hungry. Again," bahkan baru 30 menit kami meninggalkan warung steak, dia sudah mengeluh lapar, "Ada tahu?"
"Ada kayaknya. Mau?"
Dia hanya mengangguk. Dan girang.
Then I walked in to kitchen, made him a plateof fried tofu and his favorite sambal. And when I go back to him, he’s with a plate of rice already.
Dia makan dengan lahap. Lebih lahap ketimbang waktu di warung steak tadi. Damn, how I love this guy.
Then I realized the truths of "money can’t buy you a happiness". Maybe it also means "Steak can’t gives you a satisfied, rice with fried tofu and mashed chilli with garlic did." :p
2 comments:
Alhamdulillah yah, murah. Kan bisa nabung banyak jadinya. :))
iyaaa, alhamdulillah. uang bisa ditabungin buat beli berlian :p
Post a Comment