Showing posts with label Box of Chocolate. Show all posts
Showing posts with label Box of Chocolate. Show all posts

June 29, 2013

Fried Tofu with Mashed Chili and Garlics

"Ciyeeee, yang gajian pertama."
"Hahahaha, iya dong. Aku lagi baik nih. Aku traktir makan yuk. Kamu maunya di mana?"
"Terserah kamu deh."
"Aku mau hoka-hoka bento,"
"Aku males nge-mall"
"Bakso?"
"Kamu ngga bisa ya hidup tanpa bakso?"
"Apa dong?"
"Steak?"
"Deal!"

November 19, 2012

Cinta itu Lucu




Lucu itu membayangkan,
Kamu dengan wajahmu, wajah yang lelah, sebal, gemas tapi senang. Wajah yang mencari dan menanti wajah yang lain. 
“Lewat jalur mana ya nanti keretanya? Turunnya lewat gerbong berapa ya? Pakai baju apa dia? Adakah yang berubah sejak terakhir kali kita bertemu?”
Jarak selalu menuai kisah tersendiri saat sebuah pertemuan.

September 12, 2012

Monolog Sang Mantan




25 Oktober 2009
Sisi satu, “ Aku akan sms dia, dia yang udah sakitin aku terdahulu. I have the new one. Better than him!”
Sisi dua, “Buat apa? Ngaruhnya apa? Emang dia bakal terpengaruh?”
“Harus! Dia harus terpengaruh. Aku mau dia nyesel karena ninggalin aku!”
“Enggak ada gunanya, dia sayang banget sama pacarnya sekarang. Dia udah lupain kamu.”
“Enggak! Dia gak akan lupain aku!”
“Kamu hanya tidak bisa menerima kenyataan, Amrita.”
“Kenyataan apa?”
“Kenyataan bahwa dia sudah bahagia dengan yang lain, kenyataan bahwa kamu sudah menjadi bagian yang terlupakan.”
“Dia engga bakal lupain aku, Amrita!”

April 16, 2012

Silence



.......................awal Februari, we’re just go on
 “Mavendraaaaaaaaaa!”
                Ciri-ciri orang yang sedang melakukan keusilan adalah wajahnya sangat riang, tersenyum-senyum geli sendiri dan mengabaikan perbincangan tentang objek yang diusili. Contoh adalah laki-laki di depanku, Mavendra. Bukannya membantu handphone-ku yang hilang, dia malah mengabaikanku, senyum-senyum sendiri sambil membaca komik. Ketika aku tanya, dimana handphone-ku? Dia akan menjawab, “handphone apa sih?” dengan muka polosnya. Dan jika aku bertanya, kenapa senyum-senyum sendiri, diaakan menjawab, “bukunya lucu.” Padahal dia membaca terbalik.
                Cara ampuhku adalah memasang muka memelas atau dongkol. Tapi bukan mengembalikan handphone padaku langsung dan mengakui perbuatannya, tapi biasanya dia mengembalikan dalam tas atau mengembalikan di tempat dia mengambil saat aku lengah. Intinya dia tidak pernah mau mengakuinya keusilannya. Titik.
                Hari ini aku dan Mavendra belanja kebutuhan sehari-hari. Maklum, aku dan dia sesama anak kos. Kebiasaan ketika kita belanja bersama adalah saling mengingatkan untuk berhemat. Bahkan sampai tingkat kikir kalau perlu. ‘Ada conditioner-nya nih merk ini.’ Dengan dingin Mavendra bersuara, ‘yakin bakal dipake? Kamu mau shampoo-an aja udah untung.’ Atau ketika Mavendra memilih sabun muka, ‘merek A 7000; merek B 7500; sementara merek C 11000. Pilih yang mana nih?’ tanpa banyak bicara lalu aku merampas facial foam merek A dan memasukkan dalam troli.

April 13, 2012

Aku dan Cinta Pertamaku




Mendengar dan atau melihat dia tertawa lepas, sungguh dapat membuatku tersipu-sipu sendiri ikut merasakan kesenangan yang dia rasakan, meski aku memandangnya dari sebuah sudut kelas dan dia ada di sudut lainnya. Tawanya membangun sebuah asa, tertawa bersamanya.

Semakin hari tawanya semakin riang, makin banyak kawan yang dekat dengannya. Untuk ukuran siswa baru, dia sudah banyak orang yang dekat dengannya, pria-wanita, dalam atau luar kelas. Untuk kemudian dia menjadi sosok yang populer. Sementara aku, mampu dikenal segelintir manusia di kelas itu saja sudah bersyukur.

January 19, 2012

[another] Loving without touching

                When love is not talking about physically
Banyak orang yang mencibir sejak aku mengangkat seorang anak laki-laki dari sebuah panti asuhan, ‘kenapa anak seperti itu masih kau banggakan? Malah kamu jadikan anak angkatmu.’ Tidak hanya satu dua orang yang mencibirku, yang lain pun meneruskan, ‘apa tidak bisa mengangkat anak yang normal saja?’
Memang kenapa dia tidak normal?
Memang ada yang salah kalau aku menyayangi anak yang tidak normal fisik maupun mental? Apa yang harus mendapat perhatian dan kasih sayang hanya mereka yang normal dan ‘mahal’? Jika itu prinsip kalian, lalu mereka yang tidak normal dan ‘murah’ mendapat asupan kasih sayang dari mana?
Dia memang tidak normal, dia memang cacat, tapi cintaku yang tercurah padanya juga tidak pernah mengenal kata cacat. Sejuk tatap matanya yang mengajarkanku untuk mencintanya segenap jiwa raga.

Loving Without Touching

                When love is not talking about physically
Banyak orang yang mencibir, ‘ngapain sih ikan kecil seribuan kayak gitu dibelain dibawa ke mana-mana.’ Malah ada yang sedikit jahat berkata, ‘paling juga di taruh di WC terus disiram juga bakal mati.
Memang kenapa kalau Fishy kecil?
Memang ada yang salah kalau harga dia per ekor cuma Rp 1.000,00?
Apa yang harus mendapat perhatian dan kasih sayang hanya mereka yang tidak kecil dan mahal? Justru ketulusan perhatian dan sayang yang kalian beri diragukan, karena memang kalian sayang atau karena berharga mahal sehingga kalian merasa harus menjaga baik-baik. Itu bukan cinta.               

January 08, 2012

Harusnya Kau Pilih Aku



Kekasihmu tak mencintai, dirimu sepenuh hati
Dia selalu pergi meninggalkan kau sendiri

Elodie, masih terdiam dalam tangisnya. Ia masih meringkuk menahan kesakit-hatiannya. Sejak kedatanganku, ia belum bercerita apapun tentang perlakuan busuk apa lagi yang telah Devian, kekasihnya, lakukan padanya. Apapun yang aku bawakan tak menarik perhatiannya, teh hangat, camilan, apalagi buku salah satu mata kuliah yang tebalnya mencapai 500 halaman, pasti tidak akan menarik minatnya untuk bangkit dari keterpurukannya malam ini. Jika sudah begini, orang di sekitarnya, termasuk aku, akan mengalami kebingungan tingkat mahasiswa. Akhirnya, aku memain-mainkan boneka Elmo milik Elodie. Biasanya dia akan protes jika Elmo-nya mulai teraniaya di tanganku, namun kali ini dia benar-benar tidak peduli.
“Damn! Apa lagi yang harus aku perbuat?” batinku.

January 02, 2012

New Year Eve

You said that I’m good in my imagination, so I’ll prove it.

Malam Penutupan tahun 2011
         Aku menyiapkan sebuah meja yang memisahkan dua buah kursi dengan sandaran di teras lantai dua rumahku, orang-orang menyebutnya balkon. Aku tutupi meja mungil itu dengan sebuah taplak berwarna biru muda, warna kesukaanmu. Semua aku yang menyiapkan, semua tidak boleh terlewatkan; biskuit cokelat yang aku buat dengan mama tadi siang aku ingin kamu menjadi orang pertama yang mencicipinya, dan cokelat hangat yang akan menemani kita terjaga hingga tengah malam, meski sebenarnya aku ragu kemampuan minuman itu menyaingi kehangatan kita berdua ketika tanganku dan tanganmu mulai menyatu.
         Sengaja aku membuat dari cokelat, aku hanya ingin kamu tahu betapa indah dan nikmatnya memandang kedua bola matamu, cokelat.

December 29, 2011

List of "Cowok Bejat"


July, 2006

Bayu.

Satu nama lagi yang masuk dalam list “Cowok Bejat”. Well, itu makin membuktikan bahwa teoriku mendekati kebeneran: cowok itu sama, bejat. Mau menengok daftarku? Let’s we see.
1.      Papa
2.      Om Indra
3.      Papanya Nisa
4.      Papanya Yuni
5.      Andreas
6.      Om Santoso
7.      Papanya Rizal
8.      Rizal
9.      Angga
10.  Herry
Dan hari ini satu nama lagi yang memperpanjang deret itu,
11.  Bayu

Dan sebenarnya kebejatan mereka tidak jauh-jauh dari kasus perselingkuhan, ketertarikan pada fisik semata, dan ketidak-bertanggung-jawab-an yang mereka lakukan kepada kaum hawa.

October 20, 2011

My Name's Kanaya

Hi my name’s Kanaya. Well, it’s not my real name, but… I like it!” kataku saat peluncuran buku pertamaku. Akhirnya setelah sekian lama menulis dan menulis di blog, Tuhan memberikan media yang lebih indah untukku menulis.
You know, it’s my first book. Di dalamnya ada berbagai kumpulan cerita pendek masih tentang cinta. Tapi bedanya adalah cinta yang aku tulis di dalamnya merupakan kumpulan cinta yang aku alami, baik secara langsung ataupun enggak.” Aku menjelaskan isi bukuku.
“Secara tidak langsung bagaimana, Mbak?” Tanya seseorang yang duduk di bangku paling depan.
“Yaa, dari cerita temen-temen saya. Dari apa yang saya lihat di sekitar, yang jelas. Cinta yang tertuang dalam buku itu benar-benar cinta yang berada di sekita saya.”
“Sejak kapan sebenarnya mbak suka menulis?” kata orang yang duduk di lain sisi.
“Ummm…” aku menarik napas sejenak, lalu menjawab.

***

October 16, 2011

Cappuccino


18 Juli 2009, 11.58 pm
Saat ini aku masih belum sanggup untuk menengadahkan kepalaku, menatap orang di sekitarku, apalagi masa depanku. Esok toga akan ku kenakan, pita akan berpindah dari kiri ke kanan, kebanggaan dari orang tua aku dapatkan, pekerjaan tak usah lagi aku sangsikan. Kehidupan duniawiku nampak begitu utuh, meski ternyata kehidupan batiniahku begitu lumpuh.
Aku seperti sedang berada di depan sebuah akuarium, di hadapanku ada sebuah kaca bening, sebening sinaran wajahnya. Dia. Aku dan dia juga pernah menghabiskan waktu sore kami di cafĂ© ini. Dia begitu ceria sore itu, tawanya adalah hiburan tersendiri bagi batinku. Aah… Bisakah kali ini tak membicarakan dia? Memikirkannya membuat aku semakin merindukannya.
Rindu ini bagai narkotika,
merusak sistem imunku,
namun menimbulkan candu.

May 15, 2011

Pilihan

“Sudahlah nduk, apa yang kamu harapkan dari Okta?”
Pertanyaan yang selalu membuat Indi menghela napas lebih dalam. Orang tua-nya tidak henti mengumandangkan pertanyaan itu selama Indi berada di rumah. Ia sengaja mengambil cuti beberapa hari untuk meredam ketegangan yang berakar pada hati. Rumah Indi jauh dari hiruk pikuk keramaian kota, sunyinya melebihi diskotik di siang bolong, tenangnya melampaui daun yang tak tertiup angin. Jalan setapak yang mungil terasa lengang, tidak ada kemacetan. Udara yang dihirup begitu segar, sangat minim polusi. Pemandangan yang terbentang hanya sawah dengan oranng-orangan sawah yang menjaga, bukan penjajah tubuh di pinggir jalanan kota. Hiburan lain yang membuat Indi tak ingin meninggalkan desa kelahirannya adalah ketika malam menjelang. Melihat bintang yang bebas bersinar, karena tidak ada lampu jalanan yang menyaingi sinarnya. Bahkan sejak kecil ia biasa berlomba menghitung bintang dengan Arin, kakak laki-lakinya. Berkejar-kejaran dengan kunang-kunang, kelap-kelip cahayanya membuat Indi gemas. Suara jangkrik, katak, gemericik daun, desauan angin, gantungan bambu pada pintu rumah Indi, bagaikan orkestra tengah malam yang bahkan suaranya lebih indah dari orkestra milik Erwin Gutawa sekalipun.  Indi berharap hatinya mendapatkan semacam pencerahan saat ia kembali ke kota tempat ia meniti karir, kota tempat ia bertemu dengan lelaki yang ia sayang, Okta.

Still Missing You

Duduk di atas pasir putih yang lembut membuatku enggan beranjak dari posisiku. Sesekali ombak datang menghampiri, seakan mengajakku bermain air bersamanya. Pasir dan ombak ini mengingatkanku padamu. Melamunkanmu tak kan ada habisnya, tak kan ada jenuhnya.

Ingatkah kamu, saat kita membangun istana pasir bersama, kamu berkata bahwa kelak kita akan mempunyai istana nan megah seperti itu. Kamu berjanji, kamu sendiri yang akan membangunnya. Lalu aku yang akan mewarnai dinding istana itu. Bersama kita menata ruang demi ruang. Aku pun masih mengingat jelas, betapa aku kesal dengan ombak yang meratakan istana pasir yang kita buat. Aku menyalahkan ombak. Ombak itu jahat. Lalu dengan sabar kamu menatap mataku serambi meletakkan kedua tanganmu di pipiku, mengusap perlahan dan berkata, “Mungkin memang ombak yang menghancurkan, namun tak boleh kita semata-mata menyalahkan ombak. Mungkin kesalahan memang dari kita, yang membangun istana ini terlalu dekat dengan garis pantai. Jangan marah sama ombak ya...”

Bila Kau Mengerti

Lelah kaki ini berjalan mengikuti langkah kecilmu. Entah apa yang membuatmu lama memutuskan barang mana yang ingin kamu beli. Setiap toko kamu masuki, setiap karyawan kamu tanyai, tak juga ada yang cocok denganmu.

“Ini gak cocok buat aku.” Selalu itu yang menjadi alasanmu. Lalu dengan cepat kamu akan berpaling ke toko lain.

Aku memang bosan, tapi ada satu alasan yang menutup mulutku untuk tak mengatakannya padamu. Memerhatikan rambut panjangmu yang terombang-ambing setiap langkah kaki yang kamu pijakan, melihatmu cemberut saat barang yang diambilkan pramu niaga itu tak cocok dengan imajinasimu, mendengar ocehanmu yang terus bercerita tentang berbagai hal. Dan moment jalan-jalan denganmu berdua, adalah hal yang langka terjadi. Alasan-alasan itu cukup untuk membungkam mulutku agar tak berujar, “Aku bosan! Ayo kita pulang!” Kalaupun aku kalimat itu benar-benar keluar dari mulutku, itu tidak akan merubah keputusanmu untuk mendapatkan apa yang kamu mau. Apapun caranya.