Lelah kaki ini berjalan mengikuti langkah kecilmu. Entah apa yang membuatmu lama memutuskan barang mana yang ingin kamu beli. Setiap toko kamu masuki, setiap karyawan kamu tanyai, tak juga ada yang cocok denganmu.
“Ini gak cocok buat aku.” Selalu itu yang menjadi alasanmu. Lalu dengan cepat kamu akan berpaling ke toko lain.
Aku memang bosan, tapi ada satu alasan yang menutup mulutku untuk tak mengatakannya padamu. Memerhatikan rambut panjangmu yang terombang-ambing setiap langkah kaki yang kamu pijakan, melihatmu cemberut saat barang yang diambilkan pramu niaga itu tak cocok dengan imajinasimu, mendengar ocehanmu yang terus bercerita tentang berbagai hal. Dan moment jalan-jalan denganmu berdua, adalah hal yang langka terjadi. Alasan-alasan itu cukup untuk membungkam mulutku agar tak berujar, “Aku bosan! Ayo kita pulang!” Kalaupun aku kalimat itu benar-benar keluar dari mulutku, itu tidak akan merubah keputusanmu untuk mendapatkan apa yang kamu mau. Apapun caranya.
“Kok diam?” katamu buyarkan lamunanku.
“Harus ya, beli hari ini?”
“Iya.”
Lalu kamu menjelaskan yang entah untuk keberapa kalinya alasan mengapa kamu harus mendapatkan barang itu, hari ini juga. Aku memutuskan untuk diam, mendengarkan, dan memaksa otot di bibirku untuk tersenyum.
Pencarian yang memuakkan ini akhirnya terhenti juga, kamu telah mendapatkan apa yang kamu incar. Barang itu yang tak mudah dicari, atau keinginanmu yang terlalu berlebihan hingga barang itu baru kamu dapatkan setelah kita berjalan tiga jam mengitari mall ini.
Kekesalanku terobati dengan kejutanmu mengajakku makan malam di sebuah resto. Tempat yang benar-benar membuat semua kesal di hati dan linu di tubuhku lenyap seketika. Tempat ini sungguh romantis. Lampu yang tak terlalu terang juga tak redup memanjakan mata yang lelah, juga dengan tatanan ruang yang serba klasik membuat orang yang datang ke tempat ini tak berhenti berdecak kagum. Lagu jazz yang mengalun lembut menghibur telinga setiap tamu yang datang. Ini benar-benar moment langka. Aku merasa sedang kencan denganmu.
Setiba di rumah, kamu memamerkan kepadaku, baju yang baru saja kamu beli. Meski aku sudah melihatnya ketika kamu mencobanya di toko tadi. Baju yang membuatku merinding melihatmu, baju yang membuat jantungku hampir berhenti berdegub dan menahan napasku. Baju itu memang cantik, tapi tidak jika menempel pada tubuhmu. Baju itu lebih mirip kumpulan kain perca yang langsung ditempel pada tubuhmu. Entah mengapa aku masih saja canggung melihatmu dengan kain-kain perca itu. Padahal aku yakin, kamu punya ratusan yang lain dalam lemarimu.
©©©
“Entar malem gak usah jemput aku ya.” Katamu di suatu malam.
“Trus?”
“Ya gak terus. Aku mungkin tidur di rumahnya.”
“Cari mati?”
“Istrinya lagi di luar negeri.”
“Ya sudah. Jika sudah siap, aku akan mengantarmu.”
Usai melaksanakan tugasku untuk memastikan kamu sampai dengan selamat,aku membaringkan diri, imajinasiku melayang-layang. Terkadang aku berpikir untuk pergi darimu, meninggalkanmu dengan semua ini. Hatiku terlalu lelah untuk berdusta terus menerus, berdusta bahwa aku tak menyayangimu. Namun kamu terlalu penting untuk ku tinggalkan begitu saja, meski aku tahu aku tak mempunyai arti apapun dalam kehidupanmu.
Saat malam, saat kakimu turun dari motor bututku, saat lambaian tanganmu terarah hanya padaku, dan saat kamu melangkah melenggang memasuki kantor malammu, dan saat itu pula hatiku patah. Saat itu pula di dalam kepalaku bergemuruh kalimat tanya, “lelaki mana lagi yang akan menjamahmu?”
Sebagai lelaki yang tak pernah bisa memberikan apa yang kamu mau, aku hanya bisa memendam rasa perih ini sendirian. Mungkin hanya bangunan rumah kumuh ini dan Tuhan yang tahu, betapa hancurnya aku saat langit cerah berubah menjadi langit gelap bermandikan bintang dan saat kuas-kuas make up itu menari-nari di atas wajahmu yang sebenarnya sudah cantik tanpa tumpukkan bahan kimia di wajahmu. Serpihan-serpihan hati ini biar aku yang memeluknya, dan membawanya, mungkin hingga aku mati.
Meski aku sadari, suasana hubungan kita tidaklah sehat, aku tak pernah berpikir untuk pergi padamu, kamu juga pernah mengatakan bahwa kamu tak kan meninggalkanku. Karena kamu membutuhkanku, sampai kapan pun. Meski aku tak pernah tahu, apa alasanmu membutuhkanku. Namun jika aku boleh berharap, aku berharap alasanmu tak ingin pergi dariku bukan karena kamu membutuhkanku, tapi karena kamu mencintaiku. Apakah harapanku terlalu tinggi untuk tergapai? Aku rasa tidak, bukankah optimise dan keyakinan berujung dengan kebaikan?
Maka dari itu, aku yakin kamu akan mencintaiku, meski kamu baru akan mencintaiku setelah tanah merah mengubur tubuhku. Aku akan menunggu hingga kamu mencintaiku, karena aku mencintaimu, istriku.
No comments:
Post a Comment