May 15, 2011

Still Missing You

Duduk di atas pasir putih yang lembut membuatku enggan beranjak dari posisiku. Sesekali ombak datang menghampiri, seakan mengajakku bermain air bersamanya. Pasir dan ombak ini mengingatkanku padamu. Melamunkanmu tak kan ada habisnya, tak kan ada jenuhnya.

Ingatkah kamu, saat kita membangun istana pasir bersama, kamu berkata bahwa kelak kita akan mempunyai istana nan megah seperti itu. Kamu berjanji, kamu sendiri yang akan membangunnya. Lalu aku yang akan mewarnai dinding istana itu. Bersama kita menata ruang demi ruang. Aku pun masih mengingat jelas, betapa aku kesal dengan ombak yang meratakan istana pasir yang kita buat. Aku menyalahkan ombak. Ombak itu jahat. Lalu dengan sabar kamu menatap mataku serambi meletakkan kedua tanganmu di pipiku, mengusap perlahan dan berkata, “Mungkin memang ombak yang menghancurkan, namun tak boleh kita semata-mata menyalahkan ombak. Mungkin kesalahan memang dari kita, yang membangun istana ini terlalu dekat dengan garis pantai. Jangan marah sama ombak ya...”

Hanya dengan kalimat itu, perasaanku bisa kembali tenang, dendam pada ombak pun terhapuskan. Melihat senyum terulas di bibirku, kamu pun menarikku dalam pelukkanmu.

Sebuah tangan di pundakku membuyarkan lamunanku, memaksaku menoleh pada pemilik tangan itu.

“Masih belum mau pulang kan?”
“Aku masih betah di sini.”
“Bagus kalau begitu, masih ada urusan yang harus aku selesaikan. Jika kamu sudah bosan, kabari aku. Aku akan menjemputmu.” Dia pun berlalu.

Bagaimana aku bisa bosan jika di sini aku bebas mengenang masa-masa bersamamu. Jika aku boleh jujur, aku berharap pemilik tangan yang menyentuh pundakku tadi adalah kamu. Tetapi tanganmu tak mungkin lagi menyentuh pundakku, apalagi meraihku dan memelukku. Padahal aku sangat merindukanmu. Dia adalah lelaki pilihan orang tuaku untuk mendampingiku hingga aku menyusulmu ke seberang dunia sana.

Dia beda denganmu, dia tak membangun istana untukku, dia pun tak mengijinkanku mewarnai dinding istana kami. Bahkan dia lebih percaya pada design interior untuk menata ruang demi ruang istana kami. Tunggu. Istana itu hanya milik kita, aku dan kamu. Bukan aku dan dia. Jadi yang kami miliki sekarang ini bukan istana, hanya rumah. Itu rumah biasa.

Sewaktu itu kamu pernah berkata, “Jika nanti pada waktunya aku pergi, berjanjilah kamu akan mencari pengganti yang jauh lebih baik dariku.” Sayangnya aku tak bisa memenuhi janjiku, aku tak mendapatkan pengganti yang lebih baik. Karena kamu yang terbaik.

Aku teringat malam itu. Malam setelah peresmian hubunganku dengannya. Malam setelah aku resmi menjadi istrinya dan dia menjadi suamiku. Tangannya membelai lembut pipiku, tapi tak pernah selembut belaianmu. Bibirnya mengecup tulus keningku, tapi aku merasakan kecupan itu tak setulus kecupanmu. Lalu kami melaksanakan ibadah, mengejar pahala dengan bergulung di ranjang yang telah di hias dengan berbaga bunga berwarna putih, warna favoritku. Namun itu tak membuatku merasa malam ini indah. Aku bahkan merasa jijik, aku telah menodai cintaku padamu.

Senja sore menjelma menjadi malam kelam. Dia masih sibuk dengan urusannya. Dan aku masih sibuk dengan urusanku, bersamamu. Aku rindu tatapan mata itu, tatapan mata yang penuh kasih sayang padaku. Andai aku bisa menghabiskan malam ini dengan menikmati tatapan mata milikmu, tatap mata yang selalu menatapku dengan pandagan teduh namun tetap menghangatkan.

Kesalahanku padamu adalah membiarkanmu pergi, tanpa kembali. Harusnya aku menahanmu pergi. Jika itu tak bisa aku lakukan, harusnya aku ikut kemana kamu pergi.

Kembalilah sebentar ke dunia ini, untuk menjemputku.

No comments: