18 Juli 2009, 11.58 pm
Saat ini aku masih belum sanggup untuk menengadahkan kepalaku, menatap orang di sekitarku, apalagi masa depanku. Esok toga akan ku kenakan, pita akan berpindah dari kiri ke kanan, kebanggaan dari orang tua aku dapatkan, pekerjaan tak usah lagi aku sangsikan. Kehidupan duniawiku nampak begitu utuh, meski ternyata kehidupan batiniahku begitu lumpuh.
Aku seperti sedang berada di depan sebuah akuarium, di hadapanku ada sebuah kaca bening, sebening sinaran wajahnya. Dia. Aku dan dia juga pernah menghabiskan waktu sore kami di café ini. Dia begitu ceria sore itu, tawanya adalah hiburan tersendiri bagi batinku. Aah… Bisakah kali ini tak membicarakan dia? Memikirkannya membuat aku semakin merindukannya.
Rindu ini bagai narkotika,
merusak sistem imunku,
namun menimbulkan candu.
Kembali pada akuarium raksasa di depanku, sepi. Sudah sedikit mobil yang berlalu lalang, sesekali truk melenggang dengan santainya, mereka berjalan begitu lambat dan sedikit menguasai luas jalan. Mereka tidak nampak seperti monster jalanan seperti yang pernah seseorang ceritakan padaku, justru mereka nampak seperti pekerja tangguh, di saat semua kendaraan telah mengakhiri perjalanan hari itu, mereka justru baru mulai perjalanannya.
Perjalananku juga akan dimulai esok, sebagai seorang sarjana. Akan banyak hal yang berubah, tantangan, tugas perkembangan, pola hidup, dan urusan tetek bengek lainnya. Semua itu tidak sedikitpun membuatku gentar untuk melangkah bahkan melompat. Namun bila aku diijinkan meminta satu perubahan, aku ingin prioritas hatiku berubah, agar tak lagi aku di dera dengan luka.
18 Juli 2009, 04.13 pm
Lihatlah mereka, tidak ada rasa lelah tergambar sedikitpun bahkan mereka membagikan senyum terhangat mereka pada setiap tamu yang datang. Mereka orang tuaku, yang telah membuat sebuah acara hingar bingar atas nama tasyakuran keberhasilanku menempuh studi S1 di sebuah Universitas ternama di kota ini. Mungkin karena ingin menunjukkan keberhasilan mereka dalam memberikan pendidikan pada putra semata wayangnya atau karena ingin memanjakanku karena aku anak tunggal mereka, entahlah. Aku tidak begitu peduli dengan hiruk pikuk acara ini, ini hanyalah sebuah formalitas kebahagiaan, tanpa pernah menyentuh definisi bahagia itu sendiri. Bahkan aku sendiri tidak merasakan esensi kebahagiaan dari sini, dari tadi.
Beginilah isi dalam duniaku, di mana aku hidup dengan keluargaku, tertawa bersama sahabatku, dan bagaimana aku menjalani hari-hariku, namun mengapa aku tak bisa membawa dia masuk dalam duniaku? Jika biasanya, aku mampu dengan mudah membaurkan wanita-wanitaku terdahulu dengan duniaku, kali ini mengundangnya untuk masuk saja aku tak bisa. Aku juga tak tahu apa yang membuat dia begitu berbeda dengan wanita lainnya. Dan kini aku merasa tidak ada daya, hanya sentuhan tangan mungilnya di pundaku yang mampu mengutuhkan semangatku. Tapi saat ku tatap sekitar, tak ada dia. Berdoa keras untuk menghadirkan pemilik tangan mungil di rumah ini pun tak mungkin.
“Mas, ke rumahmu aja yuk.” Ia tersenyum, menggelayut pada lengan manja serambi memberi tatapan penuh harap. “Kapan-kapan aja ya?” Jawabku yang membuat kembang senyumnya kembali menguncup.
Ada rasa sesal yang bersemanyam dalam lubuk, belum pernah aku mengabulkan harapannya waktu itu. Aku pun menyadari, hari ini, esok dan seterusnya tidak akan ada lagi kesempatan mengabulkan mimpinya, juga mimpiku: mempersilahkan ia memasuki rumahku dan duniaku, meski ia telah menyeruak masuk dalam hatiku.
Demi rasa penyesalanku,
aku ingin kau tiba-tiba menepuk pundakku,
mengusap peluhku,
mengajakku kembali pada nyataku.
“Rangga, ayo sambut teman-temanmu, Nak…”
Lalu aku memilih meninggalkan dunia khayalku dan kembali masuk dalam dunia nyataku, banyak orang lain yang menunggu kehadiranku.
19 April 2009, 01.29 am
Aku masih terduduk lesu di atas sofa berkulit hitam, secangkir cappuccino tersaji tak tersentuh, hal yang sama yang ia lakukan ketika secangkir kopi ada di depannya, ia membenci kopi beserta kawan-kawannya. “Aah, bau cappuccino-nya bikin pusing, Mas.” kini sepertinya aku membenci cappuccino, karena itu mengingatkanku dengannya, membuatku rindu padanya. Rindu yang tak teralirkan bahkan tersampaikan sama saja dengan rindu yang terabaikan.
Aku mengangkat mukaku, masih tanpa semangat. Mataku tertuju pada sebuah pojok ruang, tempat aku dengannya pernah menghabiskan sebuah sore di bulan November. Ada empat buah bangku berwarna hitam mengelilingi sebuah meja berwarna putih selaras dengan kaos yang ia kenakan waktu itu.
Aku sengaja tidak duduk di bangku itu, karena aku ingin menjadi penonton yang melihat putaran video usang masa lalu antara aku dengannya meski hanya dalam memoriku. Setidaknya sebelum ada seorang laki-laki menggandeng seorang wanita berjalan mendekat menuju bangku itu. Mereka lalu duduk berdampingan, yang wanita di sebelah kanan dekat dengan tembok berpola garis-garis hitam-putih. Wanita itu menyandar dengan manja pada bahu lelakinya, tangan lelaki itu tidak tinggal diam tangan kananya membelai rambut sang wanita dengan mesranya, sementara tangan kirinya sibuk membuka halaman demi halaman menu, sesekali ia menoleh pada wanita itu, sepertinya menawarkan beberapa makanan dan minuman. Mesranya.
Seorang pelayan datang menghampiri mereka, secara reflek wanita itu melepas pelukannya. Si pelayan lalu ia mencatat dengan cermat apa yang mereka pesan, setelah membacakan kembali pesanan mereka, ia sedikit membungkukan badannya, lalu permisi pergi. Mereka kembali bermesraan.
Lihatlah mereka, wanita itu kembali merengkuh lengan lelakinya untuk ia peluk, dingin alasannya. Tidak dipungkiri, pelukan memang menghangatkan.
Tak hanya raga ini yang dingin,
Hatiku pun tlah beku,
Rengkuh aku,
Labuhkan aku dalam pelukanmu,
Pernah aku berjalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan, lalu ada seorang anak laki-laki menangis kencang, ia bahkan tidak menghiraukan betapa kotornya lantai toko itu ia bergulung-gulung serambi meneriakan, “Aku mau mainan itu, Mama!” katanya sambil menunjuk sebuah mainan miniatur segerombol tentara. Lalu tak beberapa lama, mainan itu sudah ada di tangannya. Mamanya menyerah dan memilih untuk memberikan mainan itu. Bila aku berlaku seperti anak laki-laki itu, menangis-bergulung-berteriak “Aku mau pelukan itu, Mama!” Akankah hasilnya sama dengan apa yang anak laki-laki itu peroleh?
Hanya Tuhan tempat aku memohon,
bukan memerintah.
Jarak yang mengapit sepasang kekasih itu semakin rapat, padahal aku tak merasakan suhu yang bertambah dingin, kecupan berulang kali di daratkan pada ubun-ubun wanita itu, belaian tangan sang lelaki pada rambut turun ke bahu dan kini telah sampai pada pinggul, tidak jarang sang wanita menggeliyat merapat, mereka seperti sepasang anjing yang tak tahan ingin menuntaskan gairah yang mengalir di seluruh tubuh. Memandangi mereka membuatku makin ingin mengulang hari-hari di mana aku bisa bercumbu dengan gelegar tawanya, ide usilnya, dan pertanyaan polosnya. Sayangnya masa itu tak akan kembali datang.
Pelayan kembali datang, kali ini tidak dengan kertas catatan dan bolpen, namun dengan nampan penuh dengan pesanan mereka. Dengan sopan ia menanggukan kepala lalu menyajikan makanan dan minuman. Hatiku bagai masuk dalam mesin penggilingan daging, remuk ketika menyaksikan secangkir cappuccino meramaikan meja putih dengan empat kursi mengelilinginya di pojok ruangan. Miris.
To: Dara
Thanks for coloring my days.
Sorry for the tears I made, I can’t make them fall for more.
Sorry, I love you.
Save in draft.
Cappucino di hadapanku aku habiskan dalam sekali tegukan, lalu menyelesaikan urusan administrasi. Kembali ke mobil menuju rumah, kembali ke kehidupan nyata.
Bye Dara.
19 Juli 2009, 08.06 am
Sinar matahari yang menerobos masuk lewat celah jendela, seperti memaksaku bangun dari dunia mimpi. Mataku masih sulit untuk terbuka dengan sinaran mentari yang begitu menyilaukan, dan dengan mata yang lebih bengkak dari mata seekor katak. Perlahan aku duduk dan bersandar pada dinding, masih di kasur. Melirik pada kalender duduk di meja kecil di sebelahku, berharap ini bukan tanggal 24 April 2011. Tapi tentu saja aku bukan penyihir yang bisa menyulap dan mengubah semuannya. Aku cuma wanita biasa, yang mencintai lelaki istimewa.
Hari ini dia akan diresmikan oleh Bapak Rektor yang terhormat sebagai seorang sarjana. Aku menerawang, betapa dia nampak gagah dengan pakaian toga dan senyum mengembang di wajahnya. Sayangnya aku tidak bisa menghadiahkan senyumku di hari istimewanya. Tunggu? Apa iya, senyumku adalah hadiah untuknya. Absoloutely NO!
Aku membenarkan akal sehatku, mencoba untuk tidak bergumul terlalu lama dengan kasur ini, dia hanya melemahkanku. Aku berjalan, mengambil segelas air putih. Setelah tegukan terakhir meluncur masuk ke dalam tenggorokan, badanku jauh lebih segar. Semoga berpengaruh pada pikiranku. Lalu aku mengarah pada jendela yang masih tertutup gorden ungu, warna kesukaanku. Membukanya dan membiarkan matahari memberikan sinar hangatnya pada kamarku, seperti dia yang selalu memberikan pelukan untukku, hangat. Senyum tipis ku paksakan tersungging untuk menyapa dunia, Hi world, what kind of my life would be… without him?
Tik tok. Jam terus berdetak, berputar. Sedang apa dia di sana? Damn, pikiranku tidak bisa terlalu jauh darinya.
Sedetik pun aku enggan melangkah jauh darimu
Hanya saja kamu melangkah terus
Kaki mungilku tak sanggup mengimbangi langkahmu
“Kenapa kamu nggak coba sms dia, Dara?” Bianca mengagetkanku.
“eh? Apa, Bi? Sms? Enggak ah. Mana mungkin dia mau bales.”
“Seenggaknya biar dia tahu kamu peduli.”
“Kalau enggak dibales?”
“Mana yang lebih penting sih, mengharap pemberian dari dia atau justru memberi dia yang terbaik? Dan kalau ngasih itu nggak boleh ngarep balesan.” ucapnya tulus lalu meninggalkanku menentukan pilihanku sendiri.
Seperti ada yang menggerakkan kaki dan tanganku, mereka bergerak berkoordinasi untuk mengambil ponsel, lalu mengetik sebuah pesan singkat.
To: Rangga
Happy Graduation’s Day. :)
19 Juli 2009, 08.10 am
Keadaan dalam gedung ini begitu pengap. Aku rasa Universitas ini cukup mampu untuk membuat sebuah gedung yang lebih nyaman untuk acara yang membosankan seperti ini. Begitu banyak orang yang berbicara di depan, satu per satu. Untuk apa sebenarnya mereka bicara sedemikian rupa. Toh aku yakin, Hanya beberapa gelintir orang saja yang mendengarkan mereka bicara.
“And I'm so sick of love songs, so tired of tears…”
Sial. Aku merutuk dalam hati, aku lupa mematikan nada dering ponselku. Cepat aku mengambil ponselku. Ada pesan.
From: Dara
Happy Graduation’s Day. :)
Ingin ku balas pesan itu dengan jutaan ungkapan terimakasih. Namun, sebuah pemikiran menghentikanku.
It’s enough, Dara. I can’t hurt myself by hurting you. Sorry.
18 Juli 2009, 11.00 pm
Dulu, di café ini, di sudut ini, aku dan dia bersama. Menghabiskan waktu dan makanan. Dia yang begitu memperlakukanku dengan manis. Selama ini lelaki di mataku sama, sama busuk. Namun dia berhasil membuat pandanganku tentang sosok lelaki, berubah. Setidaknya sebelum dia menunjukkan kebusukannya.
Mataku berkaca-kaca mengenang setiap detil kegiatan yang kita lakukan di bangku ini. Dimulai dari aku mencerca aroma cappuccino yang ia pesan. Karena aku semacam alergi dengan hal-hal yang berhubungan dengan kopi. Namun lucunya, kini secangkir cappuccino ada di hadapanku.
Andai mencintaimu adalah hal mudah
Semudah aku mendekap hal yang aku benci sekalipun
Aku merasa para pegawai café ini mulai membicarakanku. Mereka melihatku dengan pandangan yang menganggapku aneh hingga menganggapku hanya makhluk kere yang numpang beken di café mereka. Peduli amat dengan yang mereka pikirkan, aku tidak bisa merubah apapun yang mereka pikirkan tentangku. Bahkan memasukkan sosok aku dalam pikiran Rangga pun aku nihil.
Di sini aku terduduk, di bangku yang pernah kami tempati. Di mana aku dan dia duduk berdampingan, aku di sebelah kanan dekat dengan tembok berpola garis-garis hitam-putih. Aku dengan leluasa menyandar manja pada bahunya, sebelah tangannya mengusap-usap rambutku, sementara tangan kirinya sibuk membuka halaman demi halaman menu, sesekali ia menoleh padaku, menawarkan beberapa makanan dan minuman. Indahnya masa itu.
Malam semakin pekat. Bianca sudah berkali-kali menanyakan keberadaanku. Sebenarnya ia tidak mengijinkanku pergi sendirian malam ini dengan keadaan penuh kegalauan. Tapi aku bersikeras, aku benar-benar ingin mengenang sebelum akhirnya aku melepas kenanganku dengan Rangga dengan tenang. Meski sekarang keadaanku belum benar-benar tenang.
From: Bianca
Seriusan deh, jangan bercanda. Pulang sekarang Ra!
Itu sms kesekian dari Bianca. Baiklah aku mengalah, aku pulang. Toh, kepalaku mulai berat karena cappuccino. Oh bukan! ini karena dia. Rangga.
Thanks for the memories, Rangga. I’m still loving u, “D”
Sebelum para karyawan tahu bahwa itu ulahku menuliskan kalimat pendek itu di meja. Aku segera beranjak pulang. Berharap suatu saat kamu menemukan tulisan itu di antara tulisan-tulisan lainnya di meja ini.
dearest you,
hope you know what i feel inside.
Gambar diambil dari sini.
No comments:
Post a Comment