Mendengar
dan atau melihat dia tertawa lepas, sungguh dapat membuatku tersipu-sipu
sendiri ikut merasakan kesenangan yang dia rasakan, meski aku memandangnya dari
sebuah sudut kelas dan dia ada di sudut lainnya. Tawanya membangun sebuah asa,
tertawa bersamanya.
Semakin
hari tawanya semakin riang, makin banyak kawan yang dekat dengannya. Untuk ukuran
siswa baru, dia sudah banyak orang yang dekat dengannya, pria-wanita, dalam
atau luar kelas. Untuk kemudian dia menjadi sosok yang populer. Sementara aku,
mampu dikenal segelintir manusia di kelas itu saja sudah bersyukur.
Sungguh,
bila ditanya, ‘mengapa aku mencintainya?’ aku tidak pernah menemukan
jawabannya, meski tawamu mempesona, perangaimu mebiusku, tapi bukan itu
jawabnya. Dan hei, aku bahkan tidak yakin apakah itu yang dimaksud cinta?
Prinsip
awalku: aku akan ikut tertawa ketika dia tertawa. Tapi pada kenyataannya,
semakin hari tawanya semakin lantang sementara lukaku semakin matang. Dia tertawa
bersama seorang wanita, sekali, dua kali dan berkali-kali.
Tidak
ada seorang pun yang tahu penggalan kisah tersembunyi ini, kecuali seorang
teman yang telah menelanjangi kisahku. Hingga seorang teman itu pun mengetahui
segala suka dan dukaku memandangi lelaki yang ku cinta dari kejauhan, dari
sudut sebuah kelas. Namun dia yang menjadi temanku selalu mengangkatku dari
keterpurukanku menjaga rasa untuk lelaki itu.
Ketika
dia semakin sering tertawa dengan wanita itu, aku semakin terluka. Makin sengsara.
Ketika dia pada akhirnya berjalan bergandengan menyusuri jalan yang penuh
dengan pohon harapan dan cinta, aku terlempar, terbuang.
Ketika
aku membutuhkan temanku untuk menolongku sekali lagi dari keterpurukan, aku
melihat seorang teman yang sedang sibuk merangkai hari di jalan yang penuh
dengan bunga cinta dan harapan, bergandengan tangan dengan lelaki yang ku cinta.
Lalu
aku memilih untuk tetap menjadi serpihan kisah yang tak tersentuh. Inilah aku,
mencintaimu dengan caraku. Cukup dari sudut sebuah kelas memandangmu tertawa. Itu
sudah lebih dari cukup.
Tugas Mata Kuliah Psikologi Humanistik,
Surabaya, 9 April 2012
Gambar diambil di sini

No comments:
Post a Comment