April 13, 2012

Aku dan Cinta Pertamaku




Mendengar dan atau melihat dia tertawa lepas, sungguh dapat membuatku tersipu-sipu sendiri ikut merasakan kesenangan yang dia rasakan, meski aku memandangnya dari sebuah sudut kelas dan dia ada di sudut lainnya. Tawanya membangun sebuah asa, tertawa bersamanya.

Semakin hari tawanya semakin riang, makin banyak kawan yang dekat dengannya. Untuk ukuran siswa baru, dia sudah banyak orang yang dekat dengannya, pria-wanita, dalam atau luar kelas. Untuk kemudian dia menjadi sosok yang populer. Sementara aku, mampu dikenal segelintir manusia di kelas itu saja sudah bersyukur.


Sungguh, bila ditanya, ‘mengapa aku mencintainya?’ aku tidak pernah menemukan jawabannya, meski tawamu mempesona, perangaimu mebiusku, tapi bukan itu jawabnya. Dan hei, aku bahkan tidak yakin apakah itu yang dimaksud cinta?

Prinsip awalku: aku akan ikut tertawa ketika dia tertawa. Tapi pada kenyataannya, semakin hari tawanya semakin lantang sementara lukaku semakin matang. Dia tertawa bersama seorang wanita, sekali, dua kali dan berkali-kali.

Tidak ada seorang pun yang tahu penggalan kisah tersembunyi ini, kecuali seorang teman yang telah menelanjangi kisahku. Hingga seorang teman itu pun mengetahui segala suka dan dukaku memandangi lelaki yang ku cinta dari kejauhan, dari sudut sebuah kelas. Namun dia yang menjadi temanku selalu mengangkatku dari keterpurukanku menjaga rasa untuk lelaki itu.

Ketika dia semakin sering tertawa dengan wanita itu, aku semakin terluka. Makin sengsara. Ketika dia pada akhirnya berjalan bergandengan menyusuri jalan yang penuh dengan pohon harapan dan cinta, aku terlempar, terbuang.

Ketika aku membutuhkan temanku untuk menolongku sekali lagi dari keterpurukan, aku melihat seorang teman yang sedang sibuk merangkai hari di jalan yang penuh dengan bunga cinta dan harapan, bergandengan tangan dengan lelaki yang ku cinta.

Lalu aku memilih untuk tetap menjadi serpihan kisah yang tak tersentuh. Inilah aku, mencintaimu dengan caraku. Cukup dari sudut sebuah kelas memandangmu tertawa. Itu sudah lebih dari cukup.


Tugas Mata Kuliah Psikologi Humanistik,
Surabaya, 9 April 2012

Gambar diambil di sini

No comments: