January 19, 2012

[another] Loving without touching

                When love is not talking about physically
Banyak orang yang mencibir sejak aku mengangkat seorang anak laki-laki dari sebuah panti asuhan, ‘kenapa anak seperti itu masih kau banggakan? Malah kamu jadikan anak angkatmu.’ Tidak hanya satu dua orang yang mencibirku, yang lain pun meneruskan, ‘apa tidak bisa mengangkat anak yang normal saja?’
Memang kenapa dia tidak normal?
Memang ada yang salah kalau aku menyayangi anak yang tidak normal fisik maupun mental? Apa yang harus mendapat perhatian dan kasih sayang hanya mereka yang normal dan ‘mahal’? Jika itu prinsip kalian, lalu mereka yang tidak normal dan ‘murah’ mendapat asupan kasih sayang dari mana?
Dia memang tidak normal, dia memang cacat, tapi cintaku yang tercurah padanya juga tidak pernah mengenal kata cacat. Sejuk tatap matanya yang mengajarkanku untuk mencintanya segenap jiwa raga.

When love is about giving not taking.
Aku memberimu perhatian dan kasih sayang semampuku, tidak ada yang aku kurangi atau aku paksakan. Semua aku berikan secara tulus untukmu. Kamu tidak perlu membalasku dengan harta, cinta, atau dengan kesuksesan seperti anak lainnya. Cukup dengan membiarkanku menghujani hari-hari yang kamu lalui dengan cintaku, itu sudah lebih dari cukup. Sungguh, aku tidak mengharap balasan apa-apa darimu, bahkan aku tak mengharap kamu mengerti  bahwa yang ku beri padanya setiap detikan waktu adalah cintaku.

                Loving without touching
Kita tinggal di dunia imaji yang berbeda, tidak mungkin bagi kita untuk menyentuh satu sama lain. Bahkan tidak mungkin kita mendefinisikan cinta dengan cara yang sama. Bagaikan aku mencintaimu dengan cara daratan, namun kamu (tidak) mencintaiku dengan cara lautan.
Melalui ratusan hari denganmu, tidak membuatmu tetap ingat bahwa aku yang selalu ada di sampingmu. Kadang aku ingin meredam tangismu dalam pelukanku, namun bukannya mereda amarahmu makin menjadi. Karena memang kamu tidak pernah mengenalku, tidak akan pernah bisa mengenalku. Kamu terus meronta, memanggil nama ibu asuhmu di panti asuhan.
Aku mungkin memiliki tubuhmu, namun aku tidak pernah bisa mendapat cinta dan perhatian darimu. Bahkan memasukkan sosok ‘aku’ dalam otakmu pun nihil.
Mungkin akan lebih baik jika kamu melampiaskan amarahmu dengan memukulku, menendangku, daripada harus membanting tubuhmu ke lantai, membenturkan kepalamu ke dinding. Sungguh aku tidak sanggup melihatmu seperti ini. Jalan satu-satunya adalah memanggil, Ibu Sari, ibu asuhmu di panti asuhan. Membiarkanmu tertidur kelelahan di pangkuan beliau.
Meski tanpa memelukmu, aku tetap mencintaimu, anakku.

                Our memories
Ingat tidak waktu kita perjalanan ke Yogya?
Banyak yang menatap heran ke arah warna kuning yang ku gandeng, ya, mereka menatapmu. Kamu yang mencintai jas hujan kuningmu tidak mau melepasnya. Tapi aku tidak peduli, aku seperti sudah terbiasa dengan tatapan hina dari mereka, karena menggandengmu.
Itu pertama kali kamu naik kereta api,kamu duduk dekat jendela, agar kamu mengerti bahwa kita sedang bergerak, kita sedang jalan-jalan. Aku dan kamu. wajahmu riang sekali, menunjuk sisi luar kereta dengan terkagum-kagum. Sampai akhirnya kamu kelelahan dan tertidur dipangkuanku. Kamu terbangun ketika matahari sudah tenggelam, langit sudah mulai gelap, kamu mulai protes karena tidak ada lagi pohon-pohon yang bisa kamu lihat di luar. Aku mencoba mengalihkan perhatianmu pada pensil dan kertas gambar agar kamu tidak mengamuk lagi karena kita masih di kereta, aku tidak mau pandangan orang makin hina pada anak-anak istimewa sepertimu. Syukurlah waktu itu kamu mau memilih untuk menggambar.
Aku berjanji membawamu pulang ke rumah saat liburan ini, mengenalkanmu pada Oski dan Cicil kucing peliharaanku. Sebenarnya kamu tidak boleh terlalu dekat dengan hewan-hewan itu, namun tetap ingin mengenalkanmu pada mereka, agar kamu tahu ada makhluk lain selain kamu. Agar kamu tahu, bahwa kamu tidak sendiri di dunia ini.
Aku selalu ingin mendengarkanmu bernyanyi. Temanku langsung menertawakanku, khayal katanya. Memang khayal jika nyanyian itu didengarkan oleh telinga, tapi menjadi mungkin ketika aku mendengarkannya dengan suara hati, kamu menyanyikan dengan lembut meski tergagap, “…kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa…”

                My pray
Tuhan, aku tahu, aku bukan hamba-Mu yang baik yang mampu menjalankan amanah-Mu menjaganya dengan baik. Aku tidak mampu membuatkan taman bermain seperti yang selalu diinginkannya, aku tidak mampu menyediakan tembok yang cukup untuknya menggambar, bahkan jarang sekali rasanya mengajaknya berjalan-jalan.
Mungkin Kau memanggilnya untuk bermain-main di taman bermain Surga yang lebih indah dan luar kan Tuhan? Supaya dia dapat bermain-main dengan bebas dan berlarian tanpa ada yang melarang.
Mungkin juga Engkau memanggil dia agar dia terbebas dengan segala kelalaianku.
Tuhan, terimakasih dan maaf atas titipan anugerah-Mu berwujud pria tampan bernama Adya, Adya yang berarti tidak ada yang menandingini dan tidak ada yang akan bisa menandingimu. Selamat bermain, pasti di Surga ada taman bermain dan tembok yang luas untuk kau gambari.
Aku bundamu, yang mencintaimu.

Inspired by Fishy Cat Doll

No comments: