You said that I’m good in my imagination, so I’ll prove it.
Malam Penutupan tahun 2011
Aku menyiapkan sebuah meja yang memisahkan dua buah kursi dengan sandaran di teras lantai dua rumahku, orang-orang menyebutnya balkon. Aku tutupi meja mungil itu dengan sebuah taplak berwarna biru muda, warna kesukaanmu. Semua aku yang menyiapkan, semua tidak boleh terlewatkan; biskuit cokelat yang aku buat dengan mama tadi siang aku ingin kamu menjadi orang pertama yang mencicipinya, dan cokelat hangat yang akan menemani kita terjaga hingga tengah malam, meski sebenarnya aku ragu kemampuan minuman itu menyaingi kehangatan kita berdua ketika tanganku dan tanganmu mulai menyatu.
Sengaja aku membuat dari cokelat, aku hanya ingin kamu tahu betapa indah dan nikmatnya memandang kedua bola matamu, cokelat.
Kamu lalu datang, terlambat 59 menit dari waktu yang telah kita sepakati bersama. Macet alasanmu. Aku hendak marah, namun White Lily buah tanganmu mampu menyulap amarah menjadi semu merah di pipiku.
Demi tidak membuang waktu lebih banyak, aku membawamu ke lantai dua, membawamu ke balkon. Aku mempersilahkanmu duduk, lalu kamu duduk di kursi sebelah kiri dan aku di sebelah kanan, selalu begitu. Kata mama, pamali kalau berdua-duaan yang ketiga setan katanya, karena aku takut setan, maka dari itu aku mengikut-sertakan Hogie, boneka kesayanganku, hadiah kenaikan kelas papa.
Tanpa pernah di paksa, kamu melahap biskuit cokelat dan menyeruput cokelat hangat. Aku tertawa kecil, melihat cara makanmu yang tidak jauh beda dengan Pungky kelinci hitam-putih-ku. Hari ini kamu tampak tampan hanya dengan dengan polo-shirt warna soft pink dan celana jeans.
Mungkin ini adalah pembunuhan paling indah, membunuh waktu hanya denganmu.
Malam ini menjadi sangat spesial, bukan karena ini malam tahun baru, namun karena malam ini kamu ada di sampingku. Aku selalu memaknai pertemuan kita, layaknya tidak ada lagi hari esok untukku mencintaimu.
Gerimis datang mengundang petir yang menyambar-nyambar dengan tidak sopannya. Aku meringkuk ketakutan, melebihi kecepatan kilat kamu membenamkanku dalam pelukanmu, entah karena pelukanmu atau wangi tubuh dan rambutmu yang seperti obat sakau-ku, aku menjadi tenang.
Aku memejamkan mata, menikmati detak jantungmu, keras otot tanganmu merengkuh tubuhku, hembusan napasmu yang teruntai manis di telingaku, dan derasnya cinta yang kamu aliran dari pertemuan setiap inchi kulit kita. Betapa aku mencintaimu.
Namun hanya begitu aku mampu mencintaimu, hanya dalam pejaman mataku.
“Sayang, sudah malam. Ayo masuk, di luar dingin. Papa sudah menunggumu dari tadi, untuk mencicipi kue cokelatmu.” Mama mengingatkan.
Mataku terbuka, ada sebutir air mata di pelupuk mata dan ada dingin yang menyerbu relung jiwaku seketika.
“I wish you were here”
Surabaya, Last day of December 2011
No comments:
Post a Comment