.......................awal
Februari, we’re just go on
“Mavendraaaaaaaaaa!”
Ciri-ciri orang yang sedang
melakukan keusilan adalah wajahnya sangat riang, tersenyum-senyum geli sendiri
dan mengabaikan perbincangan tentang objek yang diusili. Contoh adalah
laki-laki di depanku, Mavendra. Bukannya membantu handphone-ku yang hilang, dia malah mengabaikanku, senyum-senyum
sendiri sambil membaca komik. Ketika aku tanya, dimana handphone-ku? Dia akan menjawab, “handphone apa sih?” dengan muka polosnya. Dan jika aku bertanya,
kenapa senyum-senyum sendiri, diaakan menjawab, “bukunya lucu.” Padahal dia
membaca terbalik.
Cara ampuhku adalah memasang
muka memelas atau dongkol. Tapi bukan mengembalikan handphone padaku langsung dan mengakui perbuatannya, tapi biasanya
dia mengembalikan dalam tas atau mengembalikan di tempat dia mengambil saat aku
lengah. Intinya dia tidak pernah mau mengakuinya keusilannya. Titik.
Hari ini aku dan Mavendra
belanja kebutuhan sehari-hari. Maklum, aku dan dia sesama anak kos. Kebiasaan
ketika kita belanja bersama adalah saling mengingatkan untuk berhemat. Bahkan
sampai tingkat kikir kalau perlu. ‘Ada
conditioner-nya nih merk ini.’ Dengan dingin Mavendra bersuara, ‘yakin bakal dipake? Kamu mau shampoo-an aja
udah untung.’ Atau ketika Mavendra memilih sabun muka, ‘merek A 7000; merek B 7500; sementara merek C 11000. Pilih yang mana
nih?’ tanpa banyak bicara lalu aku merampas facial foam merek A dan memasukkan dalam troli.
Setelah berbelanja kami makan
malam, biasanya Mavendra mengajak teman-temannya juga. Sudah hal yang biasa aku
dan Mavendra menghabiskan waktu bersama. Mulai dari belanja kebutuhan
sehari-hari, mengurus organisasi yang kami ikuti, curhat-curhatan, makan dengan
beramai-ramai seperti ini, hunting buku,
dan masih banyak lagi. Dan aku senang menghabiskan waktuku dengan Mavendra.
Sesungguhnya aku kagum padanya,
dia yang berusia lebih muda dariku, namun memiliki pola pikir yang lebih dewasa
dari kedewasaanku. Cara dia menyikapi masalahnya, cara dia memberi nasihat,
cara dia memperlakukanku, semuanya-lah.
“Loh, Faira, kok kamu punya mug
ini? Kamu kan enggak ikutan panitia Malam Penggalangan Dana waktu itu?” temanku
membuyarkan lamunanku dengan menanyakan mug sebagai tanda terimakasih kepada
panitia Malam Penggalangan Dana. Aku memang tidak ikut, karena waktu itu
tugasku sedang menumpuk.
“Oh, punya Mavendra ketinggalan.
Yaudah aku pake.”
“Ciyeee, makin deket aja sama
Dedek Vendra. Udah sana buruan jadian gih. Kasian ganteng-ganteng gitu kalau
dianggurin.”
“Apaan sih. Dia sama aku enggak
ada prospek jalan kesana tahu.”
“Loh, ini buktinya dia kasih mug
ini buat kamu. Kan waktu itu kamu iri sama panitia yang sekarang karena dapet
mug, dan kamu nyesel abis gak ikut kepanitiaan itu. Eh, tahunya dedek Vendra
rela kasihin mug-nya buat kamu.”
“Dih, itu sih ketinggalan bukan
dikasih.”
“Terus kenapa enggak dibalikin?”
“Dia bilangnya gak butuh barang alay kayak gitu.”
“Dia bilangnya gak butuh barang alay kayak gitu.”
“Aaaah, bisa-bisanya dia aja itu
sih, Ra. Toh, waktu kamu ngomong kalau kepengen punya mug itu kan ada dedek
Vendra.”
Entah kenapa reaksi biologisnya
tidak aku inginkan, pipiku bersemu.
“Aaaah, tuh kan pipinya merah.
Udah gih, buruan jadian.”
“Udah ya Fitri, aku bilangin ya,
kita enggak ada prospek kesana. Satu, he’s
younger. Dua, we’re different.”
.......................pertengahan
Juni, di tengah-tengah pertengkaran kami
Jangan kalian pikir bahwa
hari-hariku dan Mavendra selalu menyenangkan, contohnya beberapa minggu lalu.
Ketika candaannya melampaui batas. Mungkin karena memang kita tidak pernah
memberi garis tegas pada batas kami, semuanya putus-putus, semuanya samar. Dan
malam itu pun aku melihat sisi paling kekanak-kanak-an Mavendra. Pulang dengan
kecepatan yang melampaui batas. Aku yang berada di mobilnya hanya berdoa agar
aku masih punya napas hingga sampai rumah. Yang benar saja, aku besok ada
ujian!
Satu, dua hari, kita saling
tidak bertukar kabar. Masalah harga diri mengalahkan masalah kegelisahan hati.
Di kampus pun, kami jarang bertemu, karena jadwal kuliah kami yang berbeda.
Mungkin biasanya aku dulu menungguinya selesai kuliah atau sebaliknya, lalu
kami pulang bersama atau jalan-jalan bersama. Tapi setelah perang bungkam hari
itu, kami jalan sendiri-sendiri. Kami saling mencari, namun tidak pada
tempatnya. Hingga ada yang menyampaikan ‘pesan’ dari Mavendra, ’eh, Defaira tadi dicari Mavendra.’ Tiba-tiba
ada kupu-kupu dalam perutku.
Kami saling mencari, kali ini
pada tempat yang benar,
marve(ndra)lous : BUZZ!!!
defairy_ra
: BUZZ!!!
marve(ndra)lous
: Ra, temenin cari sepatu bola ya besok.
marve(ndra)lous : Jam 5.
defairy_ra
: Nanggung jam 5, abis maghrib sekalian ya?
marve(ndra)lous : Oke. Sip.
defairy_ra
: Ngapain tanya” keberadaanku sm anak”?
defairy_ra : kok gak tanya aku langsung?
defairy_ra : kangen tapi gengsi? :p
marve(ndra)lous : Dih, siapa yang kangen km?
marve(ndra)lous : Cuma nyari, takut km depresi kelamaan gak ketemu aku.
defairy_ra : besok km cari sepatunya sendiri aja deh aku sibuk.
marve(ndra)lous : Dih, gampang marah banget sih.
marve(ndra)lous : Besok ya abis maghrib. Awas aja kalo ga ikut.
marve(ndra)lous has sign out.
Keesokan harinya tepat setelah
aku melepas mukenah-ku, Mavendra menelpon, “Woi,
keluar woi. Jamuran nih.” Peep. Telepon dimatikan.
Kami berkeliling satu mall,
menjajaki satu per satu toko sepatu bola. Membandingkan harga dan kualitas dari
sepatu satu dengan sepatu yang lainnya. Bertanya pendapat padaku, sampai kadang
berdebat. Dia berkata kalau aku tidak mengetahui apapun tentang sepatu bola,
jadi lebih baik diam saja. Tapi tetap saja dia menanyakan pendapatku. Kata
orang Surabaya sih, mentolo ngaplok*).
Lebih mentolo ngaplok lagi ketika benar-benar sesuai dengan judulnya
‘Mencari sepatu bola’, dia benar-benar mencari sepatu bola. Mencari ya, bukan
membeli. Dia dan aku sudah sepaham bahwa sepatu Merek Z di toko B lebih
berkualitas, lebih terjangkau harganya, dan ada ukuran kakinya dia
mengembalikan di rak sepatu sambil lalu berkata, “Oke nanti kalau aku sudah
punya duit, aku mau beli sepatu itu.”
Sebenarnya ingin rasanya aku
memprotes kesemena-menaannya, dari jam 6 sampai hampir jam 10, dia menganiaaya
kakiku tanpa membawa pulang tas tentengan belanjaan. Biar semua orang di foodcourt ini tahu bahwa ada tindak
tidak menyenangkan. Tapi aku kalah start, dia lebih dulu memulai dengan cerita
tentang kesakit-hatiannya pada seorang wanita yang sudah sejak lama dia sukai.
Seperti kisah menyedihkan lainnya, cintanya bertepuk sebelah tangan. Dan selama
ini sebenarnya kesibukkanku adalah membangunkan dia dari imajinasi bersama
wanita itu. Tapi pada kenyataannya adalah bahwa dia lebih sibuk memikirkan
wanita itu.
.......................di
tengah Agustus, di tengah kami ada ratusan spasi
Kegiatan Mavendra sebagai
aktivis kampus makin padat. Entah bagaimana caranya bocah satu itu mengatur
waktunya. Begitu juga dengan kesibukkan-ku yang
semakin menumpuk. Belum selesai mengerjakan tugas kuliah, ketambahan
tugas dari kepanitiaan ini-itu. Jangankan mengatur waktu dengan baik seperti
Mavendra, menjaga pola makan saja aku kewalahan. Hingga berujung pada kasur
sebuah Rumah Sakit.
Hari berganti hari, penjenguk
berganti penjenguk. Dan benar saja, sebagian besar dari mereka bertanya,
‘Mavendra mana? Sudah menjenguk?’ Bukan menjenguk lagi, tapi sudah seperti
menjadi satpam. Setiap hari, sesudah dia mengakhiri kegiatannya dia langsung
menuju rumah sakit, menungguiku. Dia baru akan pulang ketika aku sudah
terlelap. Itu dia lakukan setiap hari.
Setelah 3 hari bergulat dengan
bau khas rumah sakit, akhirnya aku mendarat di kasur kamar kos-ku.
Kata dokter, aku harus menjaga pola makan dan tidak boleh terlalu capek
agar aku cepat pulih. Dan itu benar-benar ditanamkan dalam pikiran Mavendra.
Pada akhirnya setelah selesai kuliah, Mavendra langsung mengantarku pulang.
Kami tidak pernah jalan-jalan atau nongkrong di tempat makan sampai larut malam
lagi. Alasannya, ‘kamu enggak boleh
terlalu capek ya, Faira.’
Jarak yang telah di lebarkan oleh kegiatan kami, kini makin diperlebar
dengan ‘kamu enggak boleh terlalu capek
ya,’ versi Mavendra. Belum lagi setelah ini ada libur lebaran, otomatis
jarak kami diperlebar lagi dengan jarak kampung halaman. Huft-ness pun
menghampiri.
Semakin merasa huft-ness sewaktu Mavendra dan aku hampir seperti tidak
pernah mengenal satu sama lain. Selama libur panjang tidak pernah satu kalipun
dia menanyakan kabarku. Yang dulunya berangkat-pulang kuliah selalu
diantar-jemput, hal itu menjadi sangat langka terjadi, lebih langka dari BBM
masa kini. Mengajaknya belanja bulanan pun susahnya setengah hidup. Alasan dan
birokrasinya berbelit-belit.
Dan jawabannya hadir ketika rapat organisasi yang kami ikuti. Dia
diolok-olok hampir sebagian besar yang hadir di ruangan itu. Ternyata dia
datang dengan Kalea, kekasihnya. Seperti merasa terkhianati. Mavendra yang
tidak pernah menyembunyikan apapun dariku, kini dia membawa wanita yang sama
sekali tidak ada dalam cerita Mavendra bagian mana pun. Gelagatku jadi aneh
sore itu, kata orang-orang yang ada di sekitarku. Raut wajah Mavendra pun
mengisyaratkan ketidak-nyamanan atas situasi ini.
Beberapa orang mengatakan bahwa aku cemburu pada Kalea. Bahwa aku tidak
bisa menerima kenyataan bahwa Mavendra telah menjadi milik Kalea. Gadis cantik
yang baik hati. Pasti tidak ada niatan sedikit pun darinya untuk merebut Mavendra
dariku. Bahkan aku menyangsikan bahwa dia tahu tentang keberadaanku di sisi
Mavendra.
........................di
tengah Februari, tiga tahun kemudian
“Mbak, saya kesini untuk
memberitahukan bahwa sebentar lagi, saya dan mas Vendra akan menikah. Mbak
datang, ya.”
Aku masih belum bisa mencerna
kata-kata Kalea, “Me-ni-kah?”
“Iya, orang tua saya dan mas
Vendra sudah sepakat dengan hubungan kami, dan menyuruh kami untuk segera
menikah.”
“Oh, gitu. Hahaha, gak nyangka
bakalan disalip. Selamat ya, Kalea.” Kataku sambil menjabat tangan Kalea, kaku.
“Kapan pastinya?” Ucapku mencairkan kekakuan.
“Masih beberapa bulan lagi,
mbak. Tapi bukan itu yang ingin saya bicarakan.”
“Oh, lalu?”
“Gini, mbak. Kami berdua sepakat
bahwa ketika kami menikah nanti, kami memulai semuanya dari awal, dari nol.
Maksudnya, saya menyelesaikan masalah-masalah pribadi saya, dan begitu pula
yang saya minta dari Mas Vendra, menyelesaikan ‘hutang’ masalah yang dia punya.
Tapi untuk masalah yang satu ini, saya ragu bahwa mas Vendra mampu
menyelesaikannya. Jadi saya merasa harus turun tangan.”
“Tunggu, lalu hubungannya
denganku?”
“Justru, Mbak Defaira yang menjadi masalah Mas Vendra.”
“Justru, Mbak Defaira yang menjadi masalah Mas Vendra.”
Hampir tersedak ludah sendiri
ketika Kalea mengatakan hal tersebut, “Hah? Kenapa aku coba?”
“Saya tahu, Mbak Defaira dengan
Mas Vendra pernah mempunyai hubungan di masa lalu,”
“Eh eh tunggu. Tapi kita enggak
lebih dari teman loh.”
“Justru itu, Mbak. Kalian berdua
sama-sama tidak mau mengakui kalau sebenarnya perasaan kalian lebih dari teman,
tapi setiap kali pergi dengan Mas Vendra, yang menjadi topik pembicaraannya
selalu Mbak Faira. Bahkan sesekali Mas Vendra memanggilku dengan nama Mbak Faira.”
Kalea berusaha tetap tegar, “sampai terkadang saya mempertanyakan, sebenarnya
seberapa persen kehadiran saya di mata Mas Vendra.”
Aku speechless.
“Mungkin Mbak Faira sempat
bertanya-tanya ketika Mas Vendra menghilang tanpa jejak, tanpa memberi kabar
apapun. Itu semua saya yang minta, Mbak. Maafkan saya.” Ucapnya menyesal.
Malamnya, entah mengapa Mavendra
mengajakku bertemu. Kami pun bertemu di sebuah resto tempat kami biasa makan
dulu.
“Defaria,” Mavendra angkat
bicara, “udah lama enggak ketemu ya.”
“Hahaha, basi banget sih. Gimana
kabarmu?”
“Kamu juga enggak kalah basi ya.”
Kami pun tertawa bersama. Sekejap
kemudian menjadi hening. Mungkin karena saking
lamanya kami tidak bertemu seperti ini, membuat kecanggungan semakin
merajai.
“Defaira, aku kesini mau kasih
tahu, kalau aku sama Kalea akan menikah beberapa bulan lagi.”
“Me-ni-kah? Wah, selamat ya.” Aku pura-pura
terkejut.
“Dan sebelum menikah Kalea
memintaku untuk menyelesaikan ‘hutang’ masalah yang aku punya selama melajang.”
“Emang kamu punya hutang apa
sama aku? Hahaha,” candaku berusaha menutupi kecanggunganku.
“Faira, aku serius.” Lalu aku
bungkam, “Defaira, pernah enggak sih, kamu berpikir kalau aku menyayangimu?”
“Eh?”
“Aku memang menyayangimu, tapi
entah mengapa aku malu untuk mengakuinya. Tapi sebenarnya waktu itu aku juga
mempunyai ‘tempat sampah’ lain selain kamu, dia Kalea. Kalea menyuruhku untuk
mengungkapkan perasaanku padamu, namun sebelum semua sempat terjadi, Fitri
bercerita padaku, bahwa kamu menganggap hubunganku dan kamu tidak mempunyai
prospek karena faktor usia dan perbedaan kita.”
Aku tercekat. Ternyata kalimatku
waktu itu dianggap serius oleh Fitri, parahnya diungkapkan pada Mavendra. Kemudian
otakku seperti hang tidak menangkap
apa yang diceritakan Mavendra. Pada intinya, Kalea semakin mendekati lebih
intens dan intens lagi, sampai pada akhirnya mereka sampai di satu titik
bernama pacaran. Ceritanya juga tidak jauh-jauh beda dengan versi Kalea.
“Defaira,” Mavendra menggenggam
tanganku.
“Eh?”
“Yang ingin aku selesaikan
adalah jawaban atas pertanyaan yang mengambang di otakku. Apa kamu juga
menyayangiku?”
Sedetik, dua detik aku berpikir
sebelum pada akhirnya aku menjawab, “Iya. Tapi apa itu merubah kenyataan?
Tidak, Mavendra.”
Aku pergi.
.......................awal
Mei, awal mereka berumah tangga
Datang-tidak-datang-tidak-datang-tidak.
“Udah daripada galau lagi
menyaksikan mantan gebetan menikah, padahal kalian masih saling sayang. Enggak mau
kan Mavendra salah sebut namamu ketika dia mengucap janji setia sehidup semati
di depan Altar Gereja?”
“Tapi kan..,”
“Oke your ticket was booked!
Bali, we’re comming!”
.......................akhir
Mei, akhir sebuah kisah
Sial, dia mengetahui
kedatanganku. Padahal setengah mati aku
menghindari pertemuan dengannya. Aku gelagapan, mau kabur juga sudah terlambat.
Mavendra keburu memanggil namaku,
“Defaira!” serunya lantang.
Aku menatapnya dengan malas, namun berusaha membuat senyum termanis dan
memasang muka innocent, “Hei,
Vendra.” Aku berbasa-basi.
Namun Mavendra malah mencengkram pundakku, aku pasti sudah memekik
kalau aku tidak ingat kita berada di perpustakaan. Tatapan matanya penuh dengan
amarah. Sungguh aku tidak pernah melihat Mavendra semarah itu. Dengan rahang
yang mengeras, dia bicara, “kamu kenapa, Ra?! Kamu ada masalah sama aku? Kalo
iya, bilang!”
“Vendra! Apaan sih, ini perpustakaan tahu! Jangan berisik deh.” Suaraku
setengah berbisik.
Bukannya menyudahi pembicaraan konyol itu, Mavendra malah menarik
tanganku-setengah-menyeret- keluar dari perpustakaan. Lalu “membuangku” ke
dalam mobilnya.
“Oke, sekarang udah enggak ada alasan enggak boleh berisik. Just tell me, what is happening with us?”
masih dengan tatapan membunuh itu.
“Enggak ada apa-apa, emang ada apa?”
“Jangan bohong, Faira! Kalau memang enggak ada apa-apa, lalu kenapa
kamu menghindari aku?”
“Perasaanmu aja kali, biasa aja tuh.” Aku berusaha sok acuh dengan
masalah ini, sebisa mungkin menghindari tatapan wajahnya.
“Oya? Lalu kenapa kamu enggak datang di pernikahanku dengan Kalea?!”
Glek. “Kan... kan... aku
sudah mengabarimu kalau aku enggak bisa datang, karena aku lagi di Bali waktu
itu. Jadi enggak bisa datang. Aku kan sudah minta maaf waktu itu, dan kamu
memaafkan.”
“Waktu itu aku pikir kamu bercanda untuk membuat kejutan buatku dan
Kalea. Ternyata hingga saat-saat penghujung hari, ternyata kamu benar-benar
tidak datang. Dan itu karena kamu lebih memilih liburan ke Bali daripada datang
ke acara pernikahanku?” suaranya bergetar.
“Memang kenapa kalau itu pernikahanmu? Memang ada kewajiban aku harus
datang?”
“Iya! Kamu harusnya datang! Itu hari pentingku!”
“That was yours not mine!”
Aku tidak sengaja aku membentak, emosi sudah tak mampu lagi aku
bendung. Hingga kata-kata yang seharusnya tidak keluar, mencuat begitu saja.
Mavendra yang sama sekali tidak menduga bahwa aku akan mengeluarkan kalimat
seperti itu, mendadak menjadi lunglai. Seperti menopang beban tubuhnya pun
tidak mampu. Keadaan mobil pun menjadi senyap.
Setengah berbisik dan dengan suara bergetar, Mavendra bicara, “I think when something mine, automatically
will be yours.”
“It didn’t work anymore, Mavendra.”
Aku menggenggam tangannya, seakan memberikan energi padanya. Lalu tanpa
menunggu lebih lama lagi, aku menyudahi pertemuan ini. Aku meninggalkan
mobilnya dan meninggalkan kehidupannya.
Gambar diambil dari sini

No comments:
Post a Comment