Dunia ini terlalu kejam untuk hatiku yang masih baru belajar memahami apa makna cinta. Dan untuk cinta itu sendiri masih terlalu dini untuk ku akui. Dia bukanlah orang pantas untuk ku cintai lalu mengapa cinta memilihnya?
September 14, 2011
July 23, 2011
A "happy birthday"
12.05
Aku menatap telepon genggamku, tak sedikitpun bergerak memberi tanda bahwa ada pesan atau telepon yang masuk, darimu. Mungkin memang kamu tidak mengetahui hari spesial apa hari ini. Seharusnya saat awal bertemu, aku menunjukkan akte kelahiranku.
Harapanku agar kamu menjadi orang yang berusaha mengucapkan ‘selamat ulang tahun’ pertama kali sepertinya harapan yang terlalu muluk, berlebihan. Banyak orang berkata, hidup berawal dari mimpi, tapi orang tidak pernah mengatakan bahwa sakit bila mimpi itu tidak pernah menjadi hidup.
02.35
Aku belum juga tertidur, masih tetap terjaga dengan harapan yang sama serambi membalas pesan dari sahabat dan teman-temanku satu per satu. Aku bersyukur masih ada orang yang peduli dengan hari ini, dan aku berharap kamu sama pedulinya dengan hari ini.
Mungkin nanti pada saat kami bertatap muka, aku berpikir positif.
Hal yang paling membosankan adalah menunggu. Namun mengapa aku tidak pernah bosan menunggumu, hanya terkadang aku merasa kelelahan meski tanpa air keringat membanjiri tubuhku. Pagi ini aku merasakan kelelahan itu terus menumpuk hingga hatiku kelu merasakannya. Aku berterimakasih kepada orang yang mempunyai ide hebat dan menciptakan kasur, yang selalu menjadi obat kelelahanku. Pada kasur aku memasrahkan tubuhku pagi ini.
July 20, 2011
bila saja itu rindu
bila saja itu rindu,
ingin hati mengalunkan nada pada telinganya.
bila saja itu rindu,
ingin hati menggetarkan darah pada nadinya.
bila saja itu rindu,
ingin hati berpadu dalam deru napasnya.
bila saja itu rindu,
ingin hati menggelitik kalbunya.
itu memang rindu,
alunan nadamu, getaran nadimu, deruan napasmu, gelitik dari kalbumu menyergap khayalku.
membuatku semakin candu menghabiskan malam bersamamu.
May 29, 2011
Panca Indera
aku berusaha lepas dari jerat pikatmu
namun kekangmu lebih kuat dari apapun
tak mampu aku mengingkari keindahan yang melekat padamu
panca indera pun tak ada luput merasakan indahnya dirimu.
mataku, berpendar menatapmu ada di hadapku,
sinar yang terpancar dari wajahmu, tanganmu, kakimu,
mereka menyegarkan.
hidungku, tersusup aroma sejuk bak aromaterapi,
rambut dan tubuhmu mengeluarkan aroma yang menjadi canduku,
wewangian itu membuatku tak ingin jauh dari pemiliknya.
mereka menenangkan.
telingaku, terbuai dengan suara yang bersumber darimu,
celotehmu, tawamu, desahan napasmu, degub jantungmu,
mereka menghanyutkan.
kulitku, tergores lembut dengan milikmu,
jengkal demi jengkal menggelitik manja lewat sentuhanmu,
mereka menggoda.
lidahku, menjawab segala penantian,
ketika bibirmu memberikan rasa manis pada bibirku,
mereka menggairahkan.
bila hati adalah indera ke enam,
maka ia pun terkontaminasi,
jahilnya hatimu mengonyak pertahananku,
mereka menaklukanku.
aku berusaha lepas dari jerat pikatmu,
namun kekang kenangmu lebih kuat dari apapun,
tolong lepaskan ikat simpul mati pada hatiku yang tertambat padamu,
aku kian tersiksa.
May 28, 2011
Cuma Kangen
Kangen itu engga dosa kan?
kalau kangen itu dosa, betapa aku telah menjadi seorang pendosa besar.
Setiap detik aku arungi hidup dengan kangen yang menggebu padanya.
Kangen.
Satu kata sederhana.
Satu impian rumit untuk menjadi nyata.
Jangan katakan kalau kangen itu dosa!
Jika kangen itu dosa, lalu dengan apa aku harus menghiasi jarak yang membentang?
Setiap satu langkah jarak kita terbentang, seribu kangen aku tebarkan.
Kangen.
Aku berbisik dalam lara.
Semoga ia mendengar.
Siapa bilang kangen itu dosa?
Bila kangen itu dosa, alasan apa yang akan aku gunakan untuk sekedar memandangnya.
Setiap ia ada, aku tak mampu memalingkan mata darinya.
Kangen.
Kata terindah meski tak terdengar.
Wujud manis meski tak nampak.
Pelukan hangat meski tak tersentuh.
Tangisan pilu meski tak berurai air mata.
Kangen itu engga dosa kan?
Subscribe to:
Posts (Atom)
