Suatu hari aku menemukan sepucuk surat di sebuah ruang hampa, surat itu tertinggal begitu saja tanpa pernah tahu siapa tuan dari surat itu.
Dari balik tembok itu aku dapat melihatmu, kamu yang serius menatap layar komputer di depanmu. Pasti kau sedang asik dengan dunia maya yang selalu menjadi hiburanmu. Dari balik tembok aku menyaksikan, kau sedang mengenakan kaus putih dan celana pendek kesayanganmu lengkap dengan posisi dudukmu yang istimewa. Di balik tembok, hanya sebesar itu keberanianku.
Melalui pria di televisi itu aku menerawang, senyummu yang selalu mampu melumpuhkan hatiku. Hanya kotak ajaib yang menyajikan gambar bergerak itu yang membantuku berimaji kau disisiku. Apa? Menatap matamu langsung, bisa pingsan aku.
Aku akan hadir di depanmu, namun bukan selayaknya aku. Kau tidak akan pernah tahu, siapa aku. Tunggu. Bukankah memang kamu benar-benar tidak pernah tahu tentang aku maupun keberadaanku di dunia ini. Jadi, apakah tidak masalah jika aku muncul dengan sebenarnya aku? Meski aku sendiri tidak yakin, dengan keberanian yang ku punya.
Aku ingat, aku pernah muncul dihadapanmu, sekali. Waktu itu kau membantuku. Tapi, bukankah kalau seperti itu artinya kau yang muncul dihadapanku? Ah, peduli amat dengan formalitas siapa yang muncul lebih dulu. Yang lebih penting, kau pernah melihatku bahkan membantuku. Namun, apa kau mengingatnya? Bahkan mungkin kau tak ingat namaku siapa. Aku pun tak berniat untuk menanyakannya padamu.
Bahkan aku hanya berani menulis tentangmu, hanya sampai sini. Titik.
Aku, yang mencintaimu.
Surabaya, 28 November 2010
No comments:
Post a Comment