Jalan-jalan sesore ini dengan wangi tanah yg masih berbaur dengan hujan dan ada kamu berjalan di belakangku mengiringiku. Memastikan bila saja aku salah melangkahkan kakiku. Meyakinkanku bahwa kamu akan selalu ada di sisiku, saat aku membutuhkanmu.
Sore setelah hujan, di sebuah tanah lapang, bunga dan kupu-kupu sementara aku dan kamu. Meski kamu tak ikut bermain dalam permainan kejar-tangkap kupu-kupu, namun kamu akan selalu sigap ketika tubuhku mulai oleh dan hampir terjatuh.
Lalu kamu hanya berkata, “Tidak perlu menapakkan kaki dengan tergesa, terjatuh memang memberi banyak namun terlalu banyak jatuh justru menandakan bahwa kamu tidak belajar apapun.”
Aku tidak terlalu peduli apa katamu waktu itu, yang aku pedulikan ketika seekor kupu-kupu hinggap di hidungku. Lalu aku memekik riang diiringi dengan kaburnya kupu-kupu kuning.
Di sebuah teras, secangkir teh hangat dan cintamu yang tak pernah dingin. Setelah berjalan-jalan, aku dan kamu duduk di kursi saling bersebelahan, di batasi sebuah meja kecil tempat kita meletakkan teh hangat milik kita dan satu piring pisang goreng yang aku buat dengan ibuku, khusus untukmu. Sambil menyuap sepotong besar pisang goreng, lalu kamu memasukkan cerita-ceritamu ke telingaku. Meski terkadang aku tidak paham dengan apa yang kamu bicarakan, semua terdengar merdu.
Di sebuah teras, suaramu dan suara hujan bagaikan berebut mendapat perhatian dari telingaku. Hujan datang lagi, kali ini makin deras, tapi aku masih enggan masuk ke dalam rumah. Dan kamu mengijinkanku untuk tetap tinggal di teras, meski sebenarnya aku lebih ingin berbaur dengan hujan dan merasakan dinginnya hujan hingga sumsum tulangku.
“Boleh main sama hujan?” lalu kamu menggelengkan kepalamu. Sekali tidak, berarti tidak akan dipengaruhi oleh rengekan tipe apapun.
Kalau ada tempat yang paling indah, ku harap itu tempat dimana aku menatap city sunset lewat pantulan mata indahmu. Kamu ingat tanah lapang di mana aku berlari mengejar kupu-kupu? Ya, di sini aku sekarang. Menikmati sore, sesaat setelah hujan. Sore yang dingin tapi meneduhkan, sepertimu. Tidak ada bunga tidak ada kupu-kupu. Tanah itu telah berdiri kokoh menjadi gedung pencakar langit. Dan aku pun berdiri tak kalah kokoh di atas bangunan itu. menatap ke ufuk barat lengkap dengan horizon oranye yang akan segera berganti dengan biru gelap.
Andai aku bisa membawamu kembali ke sini, menikmati sekarat sang surya ditelan malam, indahnya menggantikan warna-warni sayap kupu-kupu. Dan andai aku bisa memandang lurus ke arah mata indahmu, dan berkata, “Aku rindu, Ayah.”
No comments:
Post a Comment