September 12, 2012

Monolog Sang Mantan




25 Oktober 2009
Sisi satu, “ Aku akan sms dia, dia yang udah sakitin aku terdahulu. I have the new one. Better than him!”
Sisi dua, “Buat apa? Ngaruhnya apa? Emang dia bakal terpengaruh?”
“Harus! Dia harus terpengaruh. Aku mau dia nyesel karena ninggalin aku!”
“Enggak ada gunanya, dia sayang banget sama pacarnya sekarang. Dia udah lupain kamu.”
“Enggak! Dia gak akan lupain aku!”
“Kamu hanya tidak bisa menerima kenyataan, Amrita.”
“Kenyataan apa?”
“Kenyataan bahwa dia sudah bahagia dengan yang lain, kenyataan bahwa kamu sudah menjadi bagian yang terlupakan.”
“Dia engga bakal lupain aku, Amrita!”

Message sent
10 minutes left
20 minutes left
“Dia tidak membalas sms-ku. “
“Memang kamu mengharap balasan seperti apa?”
“Dia enggak bales, pasti dia desperate sampe kehilangan kata untuk membalas sms-ku. Lihatlah, betapa seorang Amrita tidak terlupakan! Hahaha
“Atau mungkin dia sudah terlalu malas berhubungan denganmu karena terlalu bahagia dengan kekasih barunya?”
“Tidak mungkin!”
“Kalaupun dia membalas, pasti kamu juga akan berperasangka buruk tentangnya, memenuhi apa yang jadi keinginanmu.”
Message received
“Dia membalas! Apa aku bilang, dia masih peduli denganku. Lihatlah, betapa seorang Amrita tidak tergantikan! Hahaha” Teriak sisi satu lantang
Sisi dua hanya mendesah

3 November 2009
“Hey, Amrita! Lihat! Ini kekasih baru dia! Tidak lebih cantik dariku ternyata.” Ucap sisi satu setengah berteriak.
“Entahlah, aku malas berkomentar.”
“Kau dan aku sama cantiknya, jadi dia juga tidak lebih cantik darimu, Amrita.”

8 November 2009
Sisi dua melihat gelagat aneh sisi satu, “Kamu sms dia lagi?”
“Iya. Kasian aja, mungkin dia rindu aku namun tidak berani sms duluan karena takut dimarahin pacar barunya. Jadi biar aku aja yang terlihat jelek. Aku rela kok.”
“Kamu yang rindu padanya, bukan?” sindir sisi dua.
“Ngapain aku rindu dia?”
“Iya, bahkan dia tidak merindumu.”
“Sok tau!”
“Berhentilah, dia sudah menyatakan bahwa dia tidak ingin kamu ganggu-ganggu lagi!”
“Dia hanya takut pada kekasih barunya. Lagi pula aku hanya ingin berteman dengannya, tidak lebih. Salah?”
“Munafik! Kamu masih ingin lebih dari sekedar teman dengannya.”
“Sok tau!”
“Lihat foto profil baru dia, mereka nampak bahagia.”
“Hah! Paling juga untuk bikin aku cemburu. Trik murahan.” Sisi satu mendengus.


23 November 2009
“Masih saja kamu buka profil dia dan kekasihnya. Apa yang kamu cari.”
“Iseng.”
“Menulis status sindiran untuk mereka itu juga iseng?”
“Mana deh status yang menyindir mereka? Sok tau kamu!”
“Berhenti  memanggilku sok tau! Aku ini cerminan tubuhmu, jadi aku paling tahu apa yang ada di hatimu, di otakmu! Dan berhentilah menjadi munafik!”
“Siapa yang munafik!”
“Kamu, Amrita!
“Aku tidak munafik! Aku hanya...” sisi satu kehabisan kata.
“Hanya apa? Hanya tidak mampu menerima kenyataan bahwa dia lebih bahagia dengan wanita lain dibanding denganmu?”
“Dia tidak bahagia dengan wanita itu! Hanya aku yang mampu membahagiakannya!”
“Mimpi! Tataplah kenyataan! Betapa bahagia pasangan itu!”
“Itu kamuflase!”
“Untuk apa? Mencari perhatianmu? Memangnya dunia ini hanya berpusat pada kamu, kamu, dan kamu?!”
Sisi satu mengambil telepon genggamnya.
“Oh sudahlah, berhentilah meminta belas kasih orang lain dengan status-status galaumu di halaman status media-mu. Bukan dia yang menyakitimu, kamu yang menyakiti dirimu sendiri!” ujar sisi dua penuh dengan kemuakan.
“Tidak seharusnya dia mencintai wanita lain.” Ucap sisi satu setengah berbisik.
“Bukannya kamu juga sudah mencintai dan memiliki lelaki lain? Lalu di mana letak kesalahan dia?”
“Dia hanya boleh mencintaiku!”
“Dan kamu boleh mencintai siapa pun? Berapa pun jumlahnya? Egois! Berhentilah merasa bahwa kamu adalah segalanya, Amrita! Dan berhentilah melihat kenyataan sesuai dengan apa yang kamu inginkan!”
Sisi satu menangis.
“Oh, berhentilah menangis, Amrita. Tidak ada orang yang akan mengiba melihatmu berderai air mata buaya itu. Di sini hanya ada aku dan kamu!”
“Dia wanita jalang!”
“Kalau dia jalang, lalu aku harus memanggilmu apa, sebagai wanita yang mengganggu hubungan orang lain?”
“Berhentilah membela mereka!”
“Aku hanyalah separuh dari dirimu yang masih sehat, karena setengah dirimu yang lain telah dikuasai oleh pemikiran gila yang entah datang dari mana.”
“Dia milikku...” lirih sisi satu berucap.
“Relakan dia, Amrita. Kebencian hanya membuatmu lelah.”
“Dia masih mencintaiku, Amrita.”
“Tidak lagi, Amrita. Cintanya padamu sudah lama kandas. Tataplah kenyataan dengan lapang dada...”

Amrita sekali lagi menatap bayang tubuhnya pada cermin di dalam kamarnya. Ia menghapus sisa air mata, tersenyum tanpa makna, lalu pergi...


Thanks to: Sosok ‘Amrita’ yang kemaren sempet bikin gue jengeh, tapi yaudah lah let the world know who you are. ;)

gambar diambil dari sini