![]() |
November 21, 2012
November 19, 2012
Cinta itu Lucu
Lucu itu membayangkan,
Kamu dengan wajahmu, wajah yang lelah, sebal, gemas tapi senang. Wajah yang mencari dan menanti wajah yang lain.
“Lewat jalur mana ya nanti keretanya? Turunnya lewat gerbong berapa ya? Pakai baju apa dia? Adakah yang berubah sejak terakhir kali kita bertemu?”
Jarak selalu menuai kisah tersendiri saat sebuah pertemuan.
September 12, 2012
Monolog Sang Mantan
25 Oktober
2009
Sisi satu, “
Aku akan sms dia, dia yang udah sakitin aku terdahulu. I have the new one. Better than him!”
Sisi dua, “Buat
apa? Ngaruhnya apa? Emang dia bakal terpengaruh?”
“Harus! Dia
harus terpengaruh. Aku mau dia nyesel karena ninggalin aku!”
“Enggak ada
gunanya, dia sayang banget sama pacarnya sekarang. Dia udah lupain kamu.”
“Enggak! Dia
gak akan lupain aku!”
“Kamu hanya
tidak bisa menerima kenyataan, Amrita.”
“Kenyataan
apa?”
“Kenyataan
bahwa dia sudah bahagia dengan yang lain, kenyataan bahwa kamu sudah menjadi
bagian yang terlupakan.”
“Dia engga
bakal lupain aku, Amrita!”
April 16, 2012
Silence
.......................awal
Februari, we’re just go on
“Mavendraaaaaaaaaa!”
Ciri-ciri orang yang sedang
melakukan keusilan adalah wajahnya sangat riang, tersenyum-senyum geli sendiri
dan mengabaikan perbincangan tentang objek yang diusili. Contoh adalah
laki-laki di depanku, Mavendra. Bukannya membantu handphone-ku yang hilang, dia malah mengabaikanku, senyum-senyum
sendiri sambil membaca komik. Ketika aku tanya, dimana handphone-ku? Dia akan menjawab, “handphone apa sih?” dengan muka polosnya. Dan jika aku bertanya,
kenapa senyum-senyum sendiri, diaakan menjawab, “bukunya lucu.” Padahal dia
membaca terbalik.
Cara ampuhku adalah memasang
muka memelas atau dongkol. Tapi bukan mengembalikan handphone padaku langsung dan mengakui perbuatannya, tapi biasanya
dia mengembalikan dalam tas atau mengembalikan di tempat dia mengambil saat aku
lengah. Intinya dia tidak pernah mau mengakuinya keusilannya. Titik.
Hari ini aku dan Mavendra
belanja kebutuhan sehari-hari. Maklum, aku dan dia sesama anak kos. Kebiasaan
ketika kita belanja bersama adalah saling mengingatkan untuk berhemat. Bahkan
sampai tingkat kikir kalau perlu. ‘Ada
conditioner-nya nih merk ini.’ Dengan dingin Mavendra bersuara, ‘yakin bakal dipake? Kamu mau shampoo-an aja
udah untung.’ Atau ketika Mavendra memilih sabun muka, ‘merek A 7000; merek B 7500; sementara merek C 11000. Pilih yang mana
nih?’ tanpa banyak bicara lalu aku merampas facial foam merek A dan memasukkan dalam troli.
April 13, 2012
Aku dan Cinta Pertamaku
Mendengar
dan atau melihat dia tertawa lepas, sungguh dapat membuatku tersipu-sipu
sendiri ikut merasakan kesenangan yang dia rasakan, meski aku memandangnya dari
sebuah sudut kelas dan dia ada di sudut lainnya. Tawanya membangun sebuah asa,
tertawa bersamanya.
Semakin
hari tawanya semakin riang, makin banyak kawan yang dekat dengannya. Untuk ukuran
siswa baru, dia sudah banyak orang yang dekat dengannya, pria-wanita, dalam
atau luar kelas. Untuk kemudian dia menjadi sosok yang populer. Sementara aku,
mampu dikenal segelintir manusia di kelas itu saja sudah bersyukur.
Subscribe to:
Posts (Atom)




